Apa Kabar...?

Selamat Datang di IPOT-FORUM

Tempat yang tepat untuk berbagi tips, saran hingga keluh kesah di seputar investasi. Silahkan melakukan login terlebih dahulu atau silahkan mendaftar untuk member baru.

Lost your password?
Register

 

*required, username can only be alphanumeric Login
IPOT FORUM
 
Share:
Tidak Perlu Takut...
2016-07-20 15:16:31



Coba perhatikan, sudah menjadi pemandangan sehari-hari ketika akan melewati pintu tol dalam kota di Jakarta, terlihat antrean panjang kendaraan yang hendak bayar.

Untuk para pemilik kartu e-toll, ada lajur khusus dan nyaris tidak perlu antri. Sangat praktis, cukup tempelkan kartu di loket elektronik, gerbang segera terbuka, dan wuuzzz hanya dalam hitungan detik.

Sementara itu, yang melakukan pembayaran secara tunai atau manual, harus antri beberapa saat, bermenit-menit, untuk sampai di loket pembayaran. Dan hal yang sama terjadi pula di beberapa ruas jalan tol di luar Jakarta.

Bahkan untuk suatu ‘kemewahan’ melalui lajur khusus tadi, masih ditambah dengan iming-iming potongan harga tarif tol sekian persen. Namun, tetap saja jalur antrian manual lebih menjadi pilihan.

Saya tidak sedang promosi untuk penggunaan kartu e-toll. Saya hanya tidak habis pikir. Rasanya ada yang salah dengan kita. Mengubah kebiasaan, menjadi sesuatu yang sangat sulit di negeri ini.

Tentu yang dimaksud adalah mengubah sesuatu untuk menjadi lebih baik, lebih efektif, lebih efisien. Teknologi sudah sedemikian maju, memudahkan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari kita. Lalu kenapa masih harus menghabiskan bensin dan terutama menghabiskan waktu bermenit-menit mengantre yang tidak perlu?

Kita sedang bicara ratusan bahkan ribuan kendaraan lengkap dengan orang-orang di dalamnya. Setiap hari. Masyarakat kita kadang memang harus ‘dipaksa’ untuk mencoba sesuatu yang baru, yang jelas-jelas lebih bermanfaat.

Demikian juga halnya dengan berinvestasi, khususnya produk-produk pasar modal. Keengganan membuka diri untuk berubah, misalnya, seperti halnya menggunakan tiket elektronik tol tadi, membuat begitu banyak manfaat terlewatkan begitu saja dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam hal berinvestasi, tampaknya memang ada ketakutan-ketakutan yang menjadi alasan mengapa masyarakat tidak berani memulainya.

TAKUT GAGAL

Ketakutan yang pertama adalah takut gagal. Menggunakan kartu e-toll dan pertama kali melintas di jalur khusus, mungkin cukup menakutkan bagi sebagian orang.

Takut tersendat lama, dan membayangkan pengemudi di belakang kita akan menggerutu, sambil berharap tidak terdengar bunyi klakson.

Padahal kegagalan terbesar kita justru pada saat kita memutuskan untuk tidak mencoba. Tidak berani mencoba sesuatu yang baru, yang sebenarnya akan memberi manfaat lebih untuk kita. Dan investasi adalah sesuatu itu.

Cerita kegagalan dalam berinvestasi kerap terjadi justru karena kita bukan berinvestasi, melainkan berspekulasi. Membeli saham-saham terbaik (di industrinya), hampir pasti selalu memberikan keuntungan (dividen) setiap tahun, serta potensi kenaikan harga dari waktu ke waktu, bahkan saat kita wariskan suatu saat nanti.

Dan ini rasanya jauh dari kata ‘gagal’ yang bermain-main di kepala kita selama ini. Sekali lagi, investasi dan bukan spekulasi.

Hal berikutnya adalah ketakutan membayangkan bahwa kita mungkin ditipu. Saham, reksadana, atau obligasi adalah produk-produk keuangan yang resmi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tidak ada yang perlu ditakutkan. Instrumen-instrumen ini jelas ‘real’.

Membeli saham adalah menjadi pemilik perusahaaan yang kita beli. Membeli obligasi adalah memberikan pinjaman kepada negara atau perusahaan yang menerbitkan obligasi tersebut. Membeli reksadana adalah menyerahkan dana kita untuk dikelola manajer investasi, dalam bentuk saham, obligasi, ataupun instrumen-instrumen investasi lainnya.

Di luar sana, sampai kapanpun juga, tentu saja akan selalu ada pihak-pihak yang berniat menipu, dan dalam berbagai bentuk. Berpikir secara bijak dan memahami secara rasional produk-produk investasi adalah awal terbaik untuk terhindar dari risiko tertipu.

Saham, obligasi, dan reksadana adalah produk-produk terbaik untuk kita mulai. OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah dua lembaga yang dapat kita andalkan untuk mendapatkan informasi atas tawaran-tawaran investasi yang ada.

Ada juga ketakutan lain yakni takut dengan hitung-hitungan, angka-angka, pembukuan, matematika. Terbayang investasi dengan segala ke-njelimetannya. Analisis ini itu, perhitungan sana-sini, prediksi atas bawah.

Kita tidak perlu membuat investasi menjadi serumit itu, tanpa bermaksud mengatakan bahwa investasi itu juga sesuatu yang sangat mudah. Satu hal yang pasti, investasi itu sederhana.

Seperti disebutkan di atas, tengok saja perusahaan-perusahaan terbaik di bidangnya, itu sudah cukup memberikan gambaran mengenai bakal pilihan saham pertama kita.

Tetapi baiklah kalaupun kita tetap ‘phobia’ dengan angka-angka dan hitung-hitungan, seharusnya kita kan tidak perlu takut sedikitpun dengan para manajer investasi yang mengelola reksadana kita ataupun para broker yang selalu setia memberikan kita masukan-masukan mengenai investasi saham kita.

Terakhir adalah takut kalah atau rugi. Ketika kita memperlakukan saham sebagai produk spekulasi, kita akan berhadapan dengan istilah menang dan kalah.

Namun, saat kita menempatkan saham sebagai instrumen investasi, dalam persepsi jangka panjang—demikian pengertian yang memang melekat dengan sendirinya untuk kata investasi—tentu masih ada kemungkinan rugi.

Layaknya menjadi pengusaha, tentu saja ada risiko usaha kita merugi. Namun, negeri ini bertahun-tahun memiliki setumpuk instrumen investasi yang terbukti menguntungkan, dan masih juga menapak masa depan dengan begitu besar potensi keuntungan.

Satu hal yang sering kita lupakan, di satu sisi kita adalah orang-orang yang menaruh harapan akan masa depan yang lebih baik untuk kita dan keluarga kita, dan kita optimistis mengenai itu.

Namun di sisi lain, kok, kita tidak kunjung mulai berinvestasi, padahal investasi identik dengan optimisme itu sendiri. Investor adalah orang-orang yang optimis. Saat ini cukup dengan selembar uang pecahan terbesar negeri ini, kita sudah bisa mulai menjadi investor saham ataupun reksadana. Begitu banyak alasan untuk kita memulai investasi dan tidak perlu takut.

Lagipula, memulai dengan uang Rp100.000 tidaklah menyakitkan. Seperti halnya suatu hari nanti mungkin tidak akan ada lagi pintu tol manual tunai, ketika kita tidak pernah membeli dan mulai menggunakan kartu e-toll investasi (baca: instrumen investasi), rasanya kita harus bersiap pula bahwa suatu saat nanti jalan bebas hambatan masa depan mungkin akan tertutup untuk kita.

*) Nicky Hogan, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia
https://koran.bisnis.com/read/20160718/251/566668/tidak-perlu-takut#.V45Zy4iRSXA.facebook

(RS)

RE : Tidak Perlu Takut...
2020-07-24 07:49:16



Coba perhatikan, sudah menjadi pemandangan sehari-hari ketika akan melewati pintu tol dalam kota di Jakarta, terlihat antrean panjang kendaraan yang hendak bayar.

Untuk para pemilik kartu e-toll, ada lajur khusus dan nyaris tidak perlu antri. Sangat praktis, cukup tempelkan kartu di loket elektronik, gerbang segera terbuka, dan wuuzzz hanya dalam hitungan detik.

Sementara itu, yang melakukan pembayaran secara tunai atau manual, harus antri beberapa saat, bermenit-menit, untuk sampai di loket pembayaran. Dan hal yang sama terjadi pula di beberapa ruas jalan tol di luar Jakarta.

Bahkan untuk suatu ‘kemewahan’ melalui lajur khusus tadi, masih ditambah dengan iming-iming potongan harga tarif tol sekian persen. Namun, tetap saja jalur antrian manual lebih menjadi pilihan.

Saya tidak sedang promosi untuk penggunaan kartu e-toll. Saya hanya tidak habis pikir. Rasanya ada yang salah dengan kita. Mengubah kebiasaan, menjadi sesuatu yang sangat sulit di negeri ini.

Tentu yang dimaksud adalah mengubah sesuatu untuk menjadi lebih baik, lebih efektif, lebih efisien. Teknologi sudah sedemikian maju, memudahkan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari kita. Lalu kenapa masih harus menghabiskan bensin dan terutama menghabiskan waktu bermenit-menit mengantre yang tidak perlu?

Kita sedang bicara ratusan bahkan ribuan kendaraan lengkap dengan orang-orang di dalamnya. Setiap hari. Masyarakat kita kadang memang harus ‘dipaksa’ untuk mencoba sesuatu yang baru, yang jelas-jelas lebih bermanfaat.

Demikian juga halnya dengan berinvestasi, khususnya produk-produk pasar modal. Keengganan membuka diri untuk berubah, misalnya, seperti halnya menggunakan tiket elektronik tol tadi, membuat begitu banyak manfaat terlewatkan begitu saja dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam hal berinvestasi, tampaknya memang ada ketakutan-ketakutan yang menjadi alasan mengapa masyarakat tidak berani memulainya.

TAKUT GAGAL

Ketakutan yang pertama adalah takut gagal. Menggunakan kartu e-toll dan pertama kali melintas di jalur khusus, mungkin cukup menakutkan bagi sebagian orang.

Takut tersendat lama, dan membayangkan pengemudi di belakang kita akan menggerutu, sambil berharap tidak terdengar bunyi klakson.

Padahal kegagalan terbesar kita justru pada saat kita memutuskan untuk tidak mencoba. Tidak berani mencoba sesuatu yang baru, yang sebenarnya akan memberi manfaat lebih untuk kita. Dan investasi adalah sesuatu itu.

Cerita kegagalan dalam berinvestasi kerap terjadi justru karena kita bukan berinvestasi, melainkan berspekulasi. Membeli saham-saham terbaik (di industrinya), hampir pasti selalu memberikan keuntungan (dividen) setiap tahun, serta potensi kenaikan harga dari waktu ke waktu, bahkan saat kita wariskan suatu saat nanti.

Dan ini rasanya jauh dari kata ‘gagal’ yang bermain-main di kepala kita selama ini. Sekali lagi, investasi dan bukan spekulasi.

Hal berikutnya adalah ketakutan membayangkan bahwa kita mungkin ditipu. Saham, reksadana, atau obligasi adalah produk-produk keuangan yang resmi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tidak ada yang perlu ditakutkan. Instrumen-instrumen ini jelas ‘real’.

Membeli saham adalah menjadi pemilik perusahaaan yang kita beli. Membeli obligasi adalah memberikan pinjaman kepada negara atau perusahaan yang menerbitkan obligasi tersebut. Membeli reksadana adalah menyerahkan dana kita untuk dikelola manajer investasi, dalam bentuk saham, obligasi, ataupun instrumen-instrumen investasi lainnya.

Di luar sana, sampai kapanpun juga, tentu saja akan selalu ada pihak-pihak yang berniat menipu, dan dalam berbagai bentuk. Berpikir secara bijak dan memahami secara rasional produk-produk investasi adalah awal terbaik untuk terhindar dari risiko tertipu.

Saham, obligasi, dan reksadana adalah produk-produk terbaik untuk kita mulai. OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah dua lembaga yang dapat kita andalkan untuk mendapatkan informasi atas tawaran-tawaran investasi yang ada.

Ada juga ketakutan lain yakni takut dengan hitung-hitungan, angka-angka, pembukuan, matematika. Terbayang investasi dengan segala ke-njelimetannya. Analisis ini itu, perhitungan sana-sini, prediksi atas bawah.

Kita tidak perlu membuat investasi menjadi serumit itu, tanpa bermaksud mengatakan bahwa investasi itu juga sesuatu yang sangat mudah. Satu hal yang pasti, investasi itu sederhana.

Seperti disebutkan di atas, tengok saja perusahaan-perusahaan terbaik di bidangnya, itu sudah cukup memberikan gambaran mengenai bakal pilihan saham pertama kita.

Tetapi baiklah kalaupun kita tetap ‘phobia’ dengan angka-angka dan hitung-hitungan, seharusnya kita kan tidak perlu takut sedikitpun dengan para manajer investasi yang mengelola reksadana kita ataupun para broker yang selalu setia memberikan kita masukan-masukan mengenai investasi saham kita.

Terakhir adalah takut kalah atau rugi. Ketika kita memperlakukan saham sebagai produk spekulasi, kita akan berhadapan dengan istilah menang dan kalah.

Namun, saat kita menempatkan saham sebagai instrumen investasi, dalam persepsi jangka panjang—demikian pengertian yang memang melekat dengan sendirinya untuk kata investasi—tentu masih ada kemungkinan rugi.

Layaknya menjadi pengusaha, tentu saja ada risiko usaha kita merugi. Namun, negeri ini bertahun-tahun memiliki setumpuk instrumen investasi yang terbukti menguntungkan, dan masih juga menapak masa depan dengan begitu besar potensi keuntungan.

Satu hal yang sering kita lupakan, di satu sisi kita adalah orang-orang yang menaruh harapan akan masa depan yang lebih baik untuk kita dan keluarga kita, dan kita optimistis mengenai itu.

Namun di sisi lain, kok, kita tidak kunjung mulai berinvestasi, padahal investasi identik dengan optimisme itu sendiri. Investor adalah orang-orang yang optimis. Saat ini cukup dengan selembar uang pecahan terbesar negeri ini, kita sudah bisa mulai menjadi investor saham ataupun reksadana. Begitu banyak alasan untuk kita memulai investasi dan tidak perlu takut.

Lagipula, memulai dengan uang Rp100.000 tidaklah menyakitkan. Seperti halnya suatu hari nanti mungkin tidak akan ada lagi pintu tol manual tunai, ketika kita tidak pernah membeli dan mulai menggunakan kartu e-toll investasi (baca: instrumen investasi), rasanya kita harus bersiap pula bahwa suatu saat nanti jalan bebas hambatan masa depan mungkin akan tertutup untuk kita.

*) Nicky Hogan, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia
http://koran.bisnis.com/read/20160718/251/566668/tidak-perlu-takut#.V45Zy4iRSXA.facebook

(RS)

Copyright © 2011 INDOPREMIER IPOT-FORUM | "IPOT FORUM" is a registered trademark. All rights reserved.
Pacific Century Place 16/F SCBD Lot 10, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190 - Indonesia